Rabu, 28 Oktober 2009 | 05:57 WITA
Meteor atau disebut juga bintang jatuh adalah bagian dari angkasa yang terpisah dari asteroid. Orbit meteor terhadap matahari dinamakan meteoroid yang terdiri atas bebatuan dan bongkahan logam seperti besi dan nikel.
Meteor yang jatuh terlihat mempunyai cahaya yang melewati langit seperti bola api. Terkadang, bumi dijatuhi meteor hal ini disebut sebagai hujan meteor. Setiap saat, jutaan meteor masuk ke dalam atmosfer bumi, tetapi sebagian besar terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi. Kadang-kadang meteor yang besar tidak terbakar habis dan jatuh ke bumi. Sebuah meteor yang jatuh ke bumi disebut dengan batu bintang. Jatuhnya meteor-meteor tersebut ke bumi memiliki kecepatan yang tidak terhingga. Bahkan, pernah terjadi Arizona Amerika Serikat, meteor sampai ke bumi dan menimbulakan lubang hingga 100 meter dengan diameter hingga 3.000 meter.
Meteor yang jatuh di perairan Teluk Bone, 8 Oktober 2009, adalah akibat jatuhnya meteorit yang berasal dari asteroid berdiameter sekitar 10 meter ke bumi. Ledakan terjadi karena tekanan atmosfer menyebabkan pelepasan energi yang cukup besar, di mana kecepatan jatuh meteorit tersebut sekitar 20,3 km per detik atau 73.080 km per jam
Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar 50 kiloton TNT (Trinitrotoluena), sinyal ledakan tersebut juga mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km. Namun kebanyakan asteroid yang jatuh tidak menyebabkan kerusakan di bumi kecuali diameternya mencapai lebih dari 25 meter.
Berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi, objek seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap 2 sampai 12 tahun.
Kasus yang terjadi di Bone itu, andai terjadi di malam hari maka masyarakat akan melihat bola api (fireball) yang sangat terang sejak posisi yang cukup tinggi. Karena kejadiannya siang pijaran api hanya manarik perhatian saat mendekati bumi. Perisitwa serupa pernah terjadi di langit Pontianak, Kalimantan Barat, 2003.
Lalu kenapa ada getaran? Getaran yang mengiringi ledakan keras di langit disebabkan tingginya kecepatan benda antariksa yang jatuh. Meteorit itu meluncur dengan kecepatan tinggi hingga melebihi kecepatan suara. Karenanya timbul getaran.
Meteor yang besar juga bisa menimbulkan asap saat bergesekan dengan lapisan atmosfir bumi. Yang dilihat oleh warga Bone adalah meteorit yang bergesekan dengan lapisan mesosfir yang berjarak sekitar 100 kilometer dari atas permukaan bumi.
*Thomas Djamaluddin,
pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com
Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)
(
Agung)